Selasa, 03 Juli 2012

Metode Cepat Belajar Kitab Kuning dan Bahasa Arab


PELATIHAN PENERAPAN
DAN MANAJEMEN METODE AMTSILATI*


Bagaimana metode pengajaran amtsilati?
Setiap jilid terdiri dari beberapa guru spesialis, ada spesialis jilid satu, spesialis jilid dua dan seterusnya, ada spesialis praktek dan spesialis menilai.
Misalnya, ada anak 100 orang atau 40 orang diajari amtsilati jilid satu semua, pengajarannya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
Tidak terlalu cepat artinya tidak terlalu mengikuti kemauan anak-anak yang cerdas, sementara bagi anak yang bodoh tidak mampu mengikuti. Jangan terlalu lambat artinya jangan kita menuruti kemauan anak yang lambat, sehingga anak yang pandai jadi jenuh dan meremehkan pelajaran. Anak yang memang sangat lambat, ditinggal saja agar hanyut sampai khatamnya jilid satu.
Usahakan dalam waktu seminggu atau dalam 10 hari bisa khatam. Sehari 3 sampai 4 kali pertemuan, masing-masing 45 menit dengan perincian 10 menit pertama mengulangi rumus qoidah pelajaran kemarin, 25 menit penambahan materi, dan 10 menit terakhir menghafalkan rumus qoidah dari pelajaran yang diajarkan tadi, kemudian bisa mengikuti tes tulis dan lisan.
Anak yang mencapai nilai 9 naik ke jilid II, sementara anak yang nilainya kurang dari 9 koma tetap mengulangi dari jilid awal. Jilid II pun proses pengajarannya sama, pada saat mengulangi jilid I, bila ada anak baru, anak tersebut langsung saja mengikuti walaupun sudah sampah tengah. Kemudian di test, bila ternyata bisa 9 koma, maka naik. Bila tidak,maka mengulangi dari awal. Berarti kenaikan kelas waktunya hanya seminggu atau sepuluh hari.

Bagaimana jika gurunya hanya satu?
Bila gurunya hanya satu, maka anak yang lulus jilid satu, kita ambil anak yang paling cerdas, atau ada bakat leadership (kepemimpinan), kita ambil sebagai guru atau ketua kelompok yang mengajar jilid I dan guru tadi mengajar jilid II.
Dengan demikian, ada regenerasi dan ada rasa kebanggaan tersendiri, bahwa ia bisa menjadi guru, karena ia harus memikir balik bagaimana ia bisa menerima pelajaran dan ia bisa mengajarkan.
Memang harus mengorbankan waktu dan pelajaran satu anak untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu untuk banyak anak.
Maka ia akan membaca sendiri, dan kalau bisa ia tanya pada temannya yang jilid II atau ada prioritas tersendiri bagi anak tersebut tentang kenaikan jilid, atau guru memberikan peluang waktu untuk anak yang jadi guru tersebut, dan ia punya kebanggan untuk mempertahankan prestasinya.


Bagaimana jika ruangannya hanya satu?
Kita bisa jadikan lima kelompok walaupun satu kelas. Walaupun suaranya bersaingan keras, tapi Insya Allah konsentrasi tetap satu kelompok dan justru ada kesemangatan yang menjadi ketua kelompok masing-masing yang sekaligus menjadi guru dan guru aslinya hanya menjadi pengawas.

Apa manfaat dan bedanya sistem semacam itu?
Manfaatnya banyak, menurut saya inilah yang disebut pendidikan berbasis kompetensi (kemampuan) dan berbasis kompetisi. Anak akan selalu bersaing, dalam persaingan sehat. Anak yang pinter cepat selesai dan yang bodoh akan matang walaupun lama.
Hal tersebut akan mengilangkan image (pandangan) orang bahwa anak pintar itu pasti nakal.

Kenapa nakal?
Karena kalau sistem dulu, anak yang cerdas menjadi malas karena guru selalu mengulang-ulang keterangan, meski bertujuan agar anak yang bodoh bisa mengikuti. Disamping malas, ia akan gaduh bahkan merasa sombong dan meremehkan dan merasa sudah bisa. Hal ini akan justru akan menggangu anak yang bodoh, bahkan ia berusaha bolos dengan alasan ia sudah bisa dan mencari suasana baru.

Bagaimana jika gurunya masih sama-sama dalam taraf belajar?
Inilah kelebihan amtsilati. Meskipun gurunya tidak ahli nahwu, atau sama sama belajar, tetap bisa mengajarkan amtsilati.
Ini sesuai dengan sabda nabi : كَلِّمِ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ

Bukankah nanti justru menurunkan kwalitas anak?
Itu memang suatu resiko atau dampak negatif dari satu sisi, tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Pada sisi yang lain ada dampak positifnya, yaitu memacu guru agar selalu belajar. Walaupun demikian ada solusi terbaik, yaitu : guru setelah belajar metode dengan koordinator setempat. Apa yang dipahami bisa disampaikan pada anak, lalu guru belajar lagi, kemudian disampaikan kepada anak lagi yang Insya Allah bisa.
Bila ada pertanyaan yang lebih dari itu, jawabannya nanti ada pembahasannya walaupun belum bisa, kenapa? Karena amtsilati berjalan setapak demi setapak tidak meloncat-loncat dan mempelajarinya harus berurutan sesuai dengan petunjuk yang ada.

Bagaimana kalau amtsilati dimasukkan di kurikulum sekolah formal, sementara kurikulum itu sudah sangat padat?
Yaitu dengan mengganti pelajaran yang tidak perlu dengan pelajaran amtsilati. Tetapi menurut saya, yang lebih efektif adalah lebih baik setiap hari ada walaupun seperempat jam, daripada dua jam tapi seminggu sekali. Hal ini lebih baik karena dengan setiap hari ada, maka ada dua keterkaitan terus. Caranya adalah sebelum masuk sekolah seperempat jam kita mengulangi rumus dan qoidah setiap hari. Disamping menambah pelajaran yang sesuai dengan kemampuan.

Bagaimana memadukan sistem amtsilati dengan sistem lama, dimana guru membaca dan santri mencatat?
Amtsilati merupakan ilmu teori yang harus dipraktekkan. Tanpa dipraktekkan, maka tidak akan berkembang.
Cara memadukannya ada macam-macam. Diantaranya : kita mengajarkan atau perpaduan dengan sistem lama. Caranya adalah guru ngaji kitab apapun. Saat guru mengaji, membawa daftar absen seluruh anak sesuai dengan kelompok jilid masing-masing. Setiap kata langsung dilontarkan pertanyaan sesuai dengan kemampuannya. Dengan begitu, anak tidak mengantuk walaupun duduknya berada dibelakang. Ia tetap terjangkau, aktif, komunikatif dan dialogis. Guru jangan bertanya kepada murid tentang pelajaran yang belum sampai, sehingga ia tidak punya rasa takut, karena pertanyaan hanya sesuai dengan jilid masing-masing. Anak tidak malas, tidak gegabah dan tidak meremeh.
Dengan sistem ini, berarti amtsilati sudah masuk dalam tataran praktek penerapan ke kitab. Kemudian guru menerangkan maksud dari materi pengajian yang ada.
Inti dari sistem ini adalah aktif, komunikatif dan dialogis. Kenapa tidak mengantuk? Karena murid malu bila berdiri, maka berusaha untuk bisa dengan selalu berpikir. Dengan demikian anak-anak yang tidak mengajipun akan diketahui dengan tanpa harus melihat anak langsung. Tapi cukup dengan melihat absen. Bila ada qoidah yang sulit, maka dibaca bersama-sama agar semuanya bisa tahu dan hafal.

Apa syaratnya mempelajari amtsilati?
Syarat secara umum bisa membaca Indonesia dan arab. Secara khusus harus bisa berjiwa seperti anak yang seakan-akan belum pernah mengenal sama sekali.

Apa yang menjadikan amtsilati bisa berhasil?
Amtsilati merupakan materi pembelajaran bagi pemula, baik pemula kanak-kanak atau pemula kawak-kawak (tua). Cirinya pemula kawak-kawak adalah : berjenggot, sedangkan amtsilati berusaha untuk menghilangkan jenggot yang ada dalam kitab sedikit demi sedikit.
Contoh yang telah ada : simpel, ringan, diulang terus menerus dalam contoh yang berbeda-beda dalam pembahasan yang sama, dan setiap hari bertemu. Kalau dulu contohnya Ja'a Zaidun (Zaid sudah datang) tapi tidak pernah bertemu, sehingga orang membayangkan seperti apa Zaid. Kemudian gara-gara tidak bertemu, padahal Zaid sudah datang, maka "Amar menunggu" (Qoma 'Amrun). Karena terlalu lama menunggu, bertemu satu kali maka "dipukullah Zaid" (Dhorobtu Zaidan). Apakah contoh yang seperti ini salah? Tidak salah, tapi butuh jembatan. Maka amtsilati ini sebagai jembatannya.
Kata yang sudah dibahas tidak ada harokatnya, tujuannya agar anak selalu berfikir sesuai dengan kemampuannya, karena setiap ia membaca pasti menemui kata yang tidak ada harokatnya. Berarti ia setiap detik menghadapi ujian.
Amtsilati adalah sistem yang sedikit teori banyak praktek. Pengertian-pengertian yang belum perlu tidak diberikan. Suatu contoh, anak yang menangis minta makan, maka langsung saja kita suapin makanan yang ada. Jangan ditanya tentang pengertian makan. Jika itu dilakukan maka yang terjadi adalah anak itu tidak jadi makan, semakin kelaparan. Walaupun kita tidak memberikan pengertian makan, anakpun sudah kenyang.

Katanya enam bulan anak sudah bisa membaca, tapi kenapa anak yang sampai jilid V kok belum bisa membaca kitab?
Jilid I sampai III adalah pembahasan tentang isim. Jilid IV dan V adalah pembahasan tentang fi'il. Ibarat orang memasak, jilid I sampai III adalah nasi. IV dan V adalah lauk pauk dan kerupuk. Semuanya sudah matang dan tersedia. Pertanyaan selanjutnya : kok perut saya masih lapar? Jawabnya memang belum dimakan, baru memasak. Cara memakannya adalah dengan praktek tatimmah. Ibarat orang orang membangun rumah sudah punya bata, semen dan bahan-bahan yang lain. Kok masih kehujanan? Karena belum dirangkai atau dibangun. Membangunnya dengan praktek memakai tatimmah.

Apakah semua kitab bisa dibaca?
Tinggal kitabnya berbahasa apa? Kalau berbahasa Inggris jelas tidak bisa, karena memang bukan pembahasannya.

Kenapa tidak semua Alfiyah dimuat, kok hanya sebagian kecil saja? Apakah yang lain tidak penting?
Semuanya penting. Cuma ada yang lebih penting sebagai skala prioritas. Ibarat kita membangun pondasi, yang diperlukan adalah batu, semen, pasir dan kapur. Apakah keramik tidak diperlukan? Diperlukan, tapi belum waktunya.

Menurut Saya, metode amtsilati tidak salaf dan belum tentu barokah.
Kita tinjau dulu, apa yang disebut dengan salaf. Apakah yang dimaksud salaf itu kitab yang kuno-kuno yang hampir dimakan rayap? Amtsilati pembahasannya berisi tentang ayat- Al-Qur'an. Apakah ayat Al-Qur'an tidak salaf? Malah justru aslaf (lebih salah).
Tentang barokah kita tinjau dulu, apa yang disebut barokah? Barokah adalah tambahnya kebaikan. Kalau dulu saya menghafalkan alfiyah baru faham tiga tahun kemudian. Sedangkan amtsilati dibaca sekarang langsung faham. Pertanyaan kemudian, barokah mana yang dimaksud?

Apakah metode amtsilati tidak menghilangkan "tuluz zaman"?
Kita tinjau dulu apa penertian tuluz zaman. Tul artinya panjang. Zaman artinya waktu. Jangan diartikan dengan lamanya mondok atau sekolah, tapi artikanlah dengan lamanya belajar atau mengaji. Lima tahun sekolah atau mondok, tapi menonton film terus, itu lebih baik tiga bulan, tapi belajar terus. Dengan adanya pengertian tersebut, maka tidak ada batasan waktu dan ruang dalam urusan belajar dan mengaji.

Dengan adanya amtsilati, bukankah mendorong anak untuk malas belajar yang lain?
Telah kita jelaskan bahwa amtsilati bukan segala-galanya, masih butuh bimbingan dan belajar yang banyak. Amtsilati pembahasannya tingkat dasar. Amtsilati adalah alat, bukan tujuan. Ibarat carry, bila jarak perjalanannya dekat,maka mobil tersebut sudah cukup untuk mencapai tujuan tersebut. Tapi bila perjalannya jauh, maka ia harus memperhatikan kondisi mobil tersebut dan waktu yang ditempuh dengan melihat kesempatan yang ada dan keuangan yang dimiliki. Bila mempunyai uang yang cukup, maka lebih baik membeli kijang dengan menukarkan mobil tersebut. Dengan hal tersebut, maka keuangan yang kita keluarkan tidak terlalu banyak karena sudah ada modal dari uang carry, tinggal  menambah sedikit. Kalau ternyata tidak punya uang, sedangkan waktu mendesak, pakai carry pun masih bisa sampai pada tujuan dengan syarat harus hati-hati dan waspada dan banyak bertanya. Lebih baik bila ada sopir yang mendampingi agar tidak banyak mengeluarkan energi hanya sekedar untuk bertanya. (K2)

* Pelatihan disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah Kwaron Diwek Jombang 61471
  Telp. 0321-864578/862021

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar